Sambut Hari Raya Qurban, Tanamkan Sikap Mau Berkorban pada Anak

Sambut Hari Raya Qurban, Tanamkan Sikap Mau Berkorban pada Anak

156
0
SHARE
Source: shutterstock

KabarFemale̶− Sebentar lagi hari raya Idul Adha akan tiba. Berbagai persiapan mungkin sudah banyak yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya umat Muslim. Meski demikian, persiapannya memang tidak semeriah saat akan menyambut Idul Fitri. Kebiasaannya pun sedikit berbeda. Jika Idul Fitri identik dengan zakat fitrah, maka Idul Adha berhubungan dengan berkurban. Keduanya sama-sama merupakan proses penyucian diri.

Namun seyogyanya, perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha, tidak hanya sebatas perayaan. Maknanya harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kembali pada sejarahnya, Idul Adha merupakan ujian Tuhan kepada Nabi Ibrahim. Dimana sebelum Nabi Ibrahim belum memiliki anak, ia pernah bersumpah bahkan akan rela mengorbankan anaknya jika itu perintah Tuhan. Setelah memiliki anak yakni Nabi Ismail dari Hajar istri keduanya; anak yang paling ia sayangi, Tuhan pun menagih sumpah Nabi Ibrahim. Tuhan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan Nabi Ismail dengan menyembelihnya. Karena merupakan perintah Tuhan, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah tersebut meski dengan hati yang berat. Ia menyiapkan pisau pemotong paling tajam yang pernah ia miliki untuk menyembelih Nabi Ismail. Namun karena Tuhan memiliki rahasia yang begitu indah, saat akan disembelih, Nabi Ismail diganti dengan seekor kambing. Setelah membuka mata, Nabi Ibrahim justru melihat putranya sedang memegang kambing tersebut.

Dari kisah awal mula adanya Idul Qurban, kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk menanamkan nilai-nilainya dalam pendidikan anak. Menanamkan sikap rela berkorban memang tidak mudah. Namun bisa diusahakan dengan cara berikut ini:
1. Tanamkan kebiasaan berbagi dengan teman. Anak yang sudah berusia di atas satu tahun biasanya sudah mulai mengerti dengan komunikasi verbal. Anak juga mulai berinteraksi dengan teman sebayanya sesama balita. Di saat bersama teman, kalau anak memiliki makanan, biasakan untuk membaginya dengan teman sang anak. Orang bahkan harus bersikap bijak dengan membaginya dengan porsi yang sama. Dengan begitu, anak akan belajar terbiasa berbagi.
2. Orang tua harus bisa menjadi teladan yang baik. Orang tua tidak bisa sekadar menyuruh anak biasa berbagi dengan temannya. Orang tua juga harus bisa memberikan contoh sikap rela berkorban terhadap sesama, khususnya kerabat, teman, atau tetangga yang memang sering berinteraksi dengan anak.
3. Saat melihat orang lain senang, biasakan agar anak turut senang. Setelah berbagi, ambil sisi positif dari hal tersebut. Orang atau teman anak yang sudah mendapat bagian sama dengan anak, pasti merasa senang. Saat teman anak merasa senang itulah orang tua masuk untuk membantu anak memberikan tanggapan. Misalnya dengan berkata kepada anak ‘senang ya melihat Si Dia ikutan senang. Lihat deh senyumnya, manis sekali’. Bisa dilanjutkan dengan doktrin psikologis lain agar anak terus merasa senang saat melihat orang lain senang karena dirinya.
4. Jangan kenalkan anak pada sikap pelit dan mementingkan diri sendiri semata. Sebaliknya, orang tua tidak perlu mengenalkan anak pada sikap pelit dan mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini, orang tua pun harus memberikan teladan. Dengan tidak pernah bersikap pelit dan mementingkan diri sendiri. Apalagi bila dihadapan anak.

AFR150801

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY