Pendidikan Seks Merupakan Tanggung Jawab Keluarga

Pendidikan Seks Merupakan Tanggung Jawab Keluarga

186
0
SHARE
Pendidikan Seks Merupakan Tanggung Jawab Keluarga
(c) Trishmurphy-psychotherapy

RajaNego—Di era globalisasi seperti saat ini, anak kecil usia di bawah 7 tahun bahkan sudah sangat mengerti apa itu seks. Anak juga sudah mengerti perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Anak bahkan sudah mengerti mengapa orang-orang sangat menyukai hubungan badan tanpa tahu implikasinya dan aturan-aturannya.

Media informasi berkembang sangat cepat seiring dengan semakin cepatnya pertumbuhan hormon manusia. Anak-anak telah banyak mengetahui tentang seks melalui TV, HP, internet dan lainnya. Semakin tidak terkendalinya perkembangan media, orang tua sepatutnya semakin waspada terhadap pendidikan anak. Terutama tentang seks ini yang merupakan fitrah manusia.

Pendidikan seks merupakan salah satu hal yang perlu sangat diperhatikan. Bukan oleh lembaga pendidikan atau lembaga agama, melainkan oleh lembaga keluarga. Karena keluarga merupakan wadah yang tepat mengajarkan anak tentang seks secara benar.

Mengajarkan anak pengetahuan dan aturan-aturan tentang seks yang berlaku di masyarakat. Kalau anak sudah mengetahui dan mendapat pembelajaran dari keluarga, anak akan mendapat ilmu yang benar. Jika dibandingkan dengan anak yang berusaha mencari tahu sendiri, cara mengenalkan seks melalui keluarga jelas lebih aman.

Anak diberi pemahaman tentang bagian-bagian penting tubuh manusia. Kemudian dijelaskan perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan beserta fungsinya. Dijelaskan pula bahwa seks bebas itu akan membawa dampak negatif bagi anak itu sendiri berikut apa saja dampak negatifnya.

Orang tua juga harus menjelaskan kalau berhubungan seks itu hanya boleh dilakukan setelah menikah. Di luar dari itu, hukumnya tidak boleh atau haram. Lalu bagaimana cara menjelaskan kepada anak mengenai pendidikan seks tersebut? Berikut caranya:

1. Anak yang belum masuk akil baligh

Untuk anak yang belum baligh, atau belum mengerti tentang nafsu, sebaiknya jangan diberi pendidikan seks dulu. Anak di usia ini masih terlalu kecil untuk memahami tentang seks. Namun jika anak bertanya hal-hal yang berkaitan dengan seks, orang tua sebaiknya menjawabnya.

Berikan jawaban yang membuat anak puas dan tidak akan bertanya ke orang atau sesuatu yang lain. Daripada anak mencari jawaban di luar yang tidak terjamin kebenarannya, orang tua jelas jauh lebih baik menjadi sumber ilmu. Karena orang tua bisa mengarahkan apa yang disampaikannya dengan baik.

 

2. Anak yang baru masuk akil baligh atau menginjak remaja

Anak perempuan biasanya lebih cepat memasuki akil baligh dibandingkan anak laki-laki. Pada usia 10-13 tahun, anak perempuan sudah ada yang mengalami menstruasi. Sedangkan pada anak laki-laki, antara usia 12-15 tahun. Anak di usia ini harus mendapat pendidikan seks dasar seperti yang telah disebutkan di atas.

3. Anak yang berada dalam usia remaja

Setelah anak sudah paham pendidikan seks dasar, anak sudah betul-betul masuk pada usia remaja. Di usia ini, anak biasanya akan mulai menyukai lawan jenisnya. Orang tua harus betul-betul ekstra perhatian pada anak di usia ini. Orang tua juga harus menjelaskan tentang rasa suka, cinta serta bagaimana cara positif mengekspresikan rasa suka atau cinta kepada lawan jenisnya. Mana yang boleh, dan mana yang tidak boleh. Sertakan juga alasan mengapa beberapa hal tidak boleh dilakukan.

 

AFR150201

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY