Mendidik Anak dengan Komunikasi yang Tepat

Mendidik Anak dengan Komunikasi yang Tepat

173
0
SHARE
Mendidik Anak dengan Komunikasi yang Tepat
Source: shutterstock

KabarFemale–Komunikasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Selama manusia masih bersosial, selama itu pula manusia akan terus berkomunikasi. Dan selama manusia hidup, manusia akan terus bersosial. Itu artinya, selama itu pula manusia juga akan terus berkomunikasi.

Berkomunikasi merupakan aktivitas yang sudah diajarkan bahkan sejak manusia masih dalam kandungan. Seiring dengan pertumbuhan, komunikasi manusia terus mengalami perkembangan. Komunikasi pada akhirnya berkembang seperti perkembangan bahasa. Ada subjek komunikasi, ada objek komunikasi, dan ada predikat atau sesuatu yang dikomunikasikan.

Komunikasi diajarkan kepada manusia oleh manusia lain terjadi dalam keluarga. Orang tua mengajarkan anak berbicara dan berkomunikasi. Mengajarkan anak berbicara biasanya memang terdapat waktu khusus. Namun mengajarkan anak berkomunikasi, berlangsung terus-menerus sesuai tahap perkembangan anak. Namun secara umum, mengajarkan anak berkomunikasi setidaknya mencakup hal berikut ini:

1. Hindari berkata kasar, gunakan bahasa halus.

Agar anak berkomunikasi dengan cara yang baik kepada orang lain, orang tua harus mengajarkan komunikasi yang baik pula. Komunikasi yang baik menurut kebiasaan masyarakat Indonesia identik dengan bahasa yang halus dan lembut. Terlebih, dengan banyaknya bahasa daerah dan tingkatannya, akan jauh lebih baik jika anak diajarkan juga berkomunikasi menggunakan bahasa daerah dengan tingkatan yang halus. Selain itu, hindari berkata-kata kasar jika tidak ingin anak menirunya. Ajarkan anak bertatakrama melalui lisan.

2. Beri contoh, bukan menyuruh.

Dalam berkomunikasi dengan anak, hindari pula kebiasaan menyuruh tanpa memberi contoh. Anak yang cerdas biasanya akan membantah ketika orang tua menyuruh anak, tapi orang tua sendiri tidak melakukannya. Dalam hal ini, orang tua mengajarkan anak melalui komunikasi non-verbal atau fisik.

3. Tegur, bukan memarahi.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua jangan serta-merta memarahi anak. Walau bagaimana pun, anak juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Maklumi kesalahan itu, lalu tegur dengan cara yang halus. Cara yang menyentuh hati dan membuka pikiran anak. Dengan begitu, anak bisa belajar dari kesalahan yang ia lakukan. Bukan membenci dirinya sendiri atau orang tua karena dimarahi akibat kesalahan yang tidak dia sadari.

4. Kuatkan, bukan jatuhkan.

Ketika anak mengalami kegagalan atau kesuksesan, tugas orang tua ialah terus memotivasi anak. Dalam hal ini, komunikasi psikologis antara anak dan orang tua lah yang berperan penting. Ketika anak sukses dalam satu hal, beri ia penghargaan agar ia semakin semangat belajar. Ketika anak gagal melakukan satu hal, beri ia dukungan agar tidak menyerah untuk belajar.

AFR150301

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.