Alasan Anak Bermasalah di Sekolah

Alasan Anak Bermasalah di Sekolah

177
0
SHARE
Source: shutterstock

KabarFemale− Jika Anda seorang guru, pasti sering menjumpai siswa-siswa bermasalah di kelas maupun di sekolah. Entah bermasalah dengan pelajaran, kedisiplinan, teman-teman, guru hingga lingkungan sekolah. Sebagai seorang guru, Anda pasti merasa sedikit kesal sekaligus prihatin. Kesal karena kenakalan sang siswa. Prihatin dengan masa depan siswa tersebut. Jika Anda sedikit perhatian dengan menanyakan bagaimana kehidupannya di rumah, Anda mungkin akan menemukan jawaban. Jawaban mengapa anak tersebut bermasalah, kemungkinan besar karena ia memiliki masalah di rumahnya.

Masalah dalam kehidupan itu sangat luas. Bahkan anak-anakpun bisa dihadapkan pada masalah yang menurut logika normal, tidak seharusnya seorang anak-anak mendapatkan masalah berat. Apalagi masalah dengan keluarga. Anak yang seharusnya masih menikmati kehidupan bermain dan belajar, justru harus dibebani dengan masalah keluarga.
Faktanya, setiap masalah pasti memiliki dampak. Baik dampak positif maupun negatif. Anak-anak yang mendapatkan masalah dengan keluarga bisa menjadi lebih cepat berpikir realistis dan dewasa. Namun dari sisi negatif, masalah dalam keluarga membuat anak bisa bermasalah ketika di sekolah. Hal ini disebabkan beberapa hal berikut:

1. Keluarga menjadi rumah dan sekolah utama anak. Dalam pendidikan anak, idealnya orang tua menyediakan lingkungan dan fasilitas yang layak untuk anak. Orang tua harus sekaligus menempati fungsi sebagai guru dan teman belajar anak di rumah. Jika orang tua sudah tidak bisa memenuhi satu dari sekian banyak komponen pendidikan anak di rumah, tak heran jika anak bermasalah dalam belajar. Apalagi lingkungan rumah membuat anak tidak nyaman untuk sekadar beristirahat saja. Jadi lah anak bermasalah di sekolahnya. Contoh kecilnya, jika orang tua tidak bisa mengayomi anak dengan benar saat mendidiknya. Hingga orang tua melakukan tindak kekerasan yang tak seharusnya. Jangan heran jika anak tumbuh menjadi pribadi yang kasar kepada teman-temannya. Anak hanya merealisasikan apa yang diajarkan orang tuanya.
2. Jiwa anak-anak masih sangat mudah terpengaruh dengan apa yang ia lihat, apalagi dengan hal yang dialami sendiri. Anak masih belum memiliki sistem filterisasi yang kuat di otaknya. Anak belum sepenuhnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Hal kurang baik yang ia dapatkan dari keluarga bisa anak tiru dan dilakukan di lingkungan lain.
3. Masih banyaknya orang tua yang kurang sadar akan pentingnya menciptakan keluarga ideal bagi tumbuh kembang anak. Meski kemajuan teknologi sudah seperti sekarang, hal ini belum mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya membina keluarga baik dan ideal. Tak heran jika selalu saja ada masalah yang membawa dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Khususnya masalah yng berpengaruh buruk terhadap kondisi prikologis anak. AFR150801

SHARE
Previous articleHangat Bagai Mentari
Next articleSemarak Musim Dingin
Gadis pecinta kesederhanaan. Karena hidup itu sederhana. Jadi jangan dibuat rumit dan berlebihan

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY