Sebuah Legenda Cerita Cinta Sejati dari Kerajaan Sriwijaya

Sebuah Legenda Cerita Cinta Sejati dari Kerajaan Sriwijaya

883
0
SHARE
Sebuah Legenda Cerita Cinta Sejati dari Kerajaan Sriwijaya
Source : tipsofdivorce.com

Berbagai cerita cinta sejati dapat kita jumpai dalam berbagai media. Misalnya saja sebuah novel yang menceritakan perjalanan cinta sejati antara romeo dan juliet. Atau sebuah dongeng tentang perjalanan cinta sejati seorang cinderela dengan sepatu kacanya. Atau sebuah dongeng dari dalam negeri sendiri, tentang cerita cinta sejati dari pulau Sumatera. Tepatnya dari daerah Palembang Sumatra Selatan.

Cerita cinta sejati ini sampai saat ini dikenal dengan legenda Pulau Kemaro. Yang menceritakan seorang putri raja Sriwijaya yang bernama Siti Fatimah. Siti Fatimah adalah seorang putri yang berparas cantik jelita. Tidak ada seorangpun yang tidak memuji kecantikannya. Semua orang ingin meminangnya sebagai istri. Namun karena kekuasaan yang dimiliki ayahnya yaitu raja kerajaan Sriwijaya pada waktu itu, banyak pemuda yang mengurungkan niatnya. Karena raja hanya ingin anaknya menikah dengan putra raja yang kaya raya.

Hingga datang pedagang dari negeri Cina, bernama Tan Bun Ann. Dia datang untuk berniaga. Sebagai permulaan dia datang meminta ijin berdagang kepada raja Sriwijaya. Maka rajapun mengijinkannya berdagang dengan syarat memberikan sebagian keuntungan berdagangnya. Karea itulah setiap minggu Tan Bun Ann datang menghadap raja untuk menyerahkan sebagian keuntungan berdagang, sesuai dengan kesepakatan awalnya.

Hingga suatu hari ketika Tan Bun Ann pergi menyerahkan sebagian keuntungan kepada raja. Dia melihat Situ Fatimah dan terpesona akan kecantikannya. Begitu pula hal serupa dirasakan oleh Siti Fatimah yang juga merasakan hal yang sama ketika melihat Tan Bun Ann. Merekapun menjalin kasih bersama.

Setelah merasakan kecocokan maka Tan Bun Ann memberanikan diri untuk meminang Siti Fatimah. Karena statusnya sebagai putra raja kerajaan dari Cina, raja Sriwijaya memberikan restunya. Namun dengan sebuah syarat yang harus dipenuhi Tan Bun Ann. Raja memintanya untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Permintaan raja pun disampaikan Tan Bun Ann kepada orangtuanya di Cina.

Sebuah surat balasan dikirimkan kepada Tan Bun Ann. Surat tersebut berisi tentang restu yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Dalam surat tersebut juga berisi permintaan maaf karena tidak dapat hadir dalam pernikahannya. Dan mengirimkan sembilan guci berisi emas sebagai gantinya, sesuai dengan permintaan raja Sriwijaya.

Sesampainya kapal yang membawa guci tiba di dermaga. Tan Bun Ann memeriksa isinya satu persatu. Betapa terkejutnya ia ketika menemui guci-guci tersebut hanya berisi sayuran sawi yang membusuk. Ia pun melemparkan guci-guci tersebut ke dalam sungai dengan marah dan perasaan kecewa. Namun, ketika ia hendak melempar guci terakhir ke sungai. Kakinya tersandung dan guci terakhir itupun pecah. Emas berserakan di tengah pecahan guci tersebut. Ternyata tanpa sepengetahuannya orangtuanya mengirimkan guci berisi emas dengan menutupi emas tersebut dengan sayuran untuk mengelabuhi perompak.

Seketika karena terkejut, Tan Bun Ann pun langsung mencebur ke sungai Musi untuk mengambil kembali guci-guci berisi emas yang telah dibuangnya kesungai. Kemudian diikuti pula oleh pengawalnya yang setia juga mencebur kesungai membantunya.

Di tempat lain Siti Fatimah melihat apa yang terjadi dari kejauhan. Ia pun bergegas berlari ke pinggir kapal untuk melihat keadaan calon suaminya. Dengan rasa cemas, ia berharap calon suaminya muncul dari dalam sungai. Karena Tan Bun Ann tidak segera muncul, akhirnya Siti bersama dayangnya ikut mencebur ke dalam sungai untuk mencari Tan Bun Ann. Sebelumnya ia berpesan kepada seorang di atas kapal itu. Bahwa jika terdapat tumpukan tanah di tepi sungai, maka tumpukan tanah tersebut adalah kuburan baginya.

Namun ternyata Siti Fatimah tak pernah kembali muncul ke permukaan, begitu pula dengan Tan Bun Ann. Hingga beberapa hari kemudian gundukan tanah muncul di tepi sungai Musi. Semakin lama gundukan tanah tersebut semakin membesar dan jadilah sebuah pulau. Hingga kini pulau tersebut dinamai dengan pulau Kemaro.

Pulau Kemaro menjadi saksi perjalanan cerita sejati yang diabadikan dalam sebuah cerita di negeri ini. Perjalanan cinta Siti Fatimah dan Tan Bun Ann untuk menyatukan cinta mereka. Namun di tempat yang sama cinta mereka disatukan dalam wujud yang berbeda.

BFR14110105

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.