Kalimat ini Jarang Ditemukan dalam Keluarga yang Tidak Harmonis

    177
    0
    SHARE
    Kalimat ini Jarang Ditemukan dalam Keluarga yang Tidak Harmonis
    Source: shutterstock

    KabarFemale– Keluarga harmonis ibarat surga dunia. Karena di situ lah, individu mendapatkan ketenangan sekaligus kesenangan atau kebahagiaan. Membangun keluarga harmonis membutuhkan komitmen dan usaha dari seluruh anggota keluarga. Karena jika salah satu anggota keluarga saja bermasalah, seluruh anggota keluarga yang lain akan mendapat imbasnya.

    Di zaman modern seperti sekarang, nampaknya populasi keluarga tidak harmonis semakin meningkat. Keluarga bermasalah semakin banyak jumlahnya. Begitu pula dengan keluarga yang broken home. Akibatnya, masing-masing anggota keluarga mencari kebahagiaan di luar. Dimana kebahagiaan tersebut belum tentu bisa dibenarkan. Bahkan bisa jadi kebahagiaan tersebut justru membawa penderitaan yang lebih buruk lagi.

    Keluarga yang bermasalah belum tentu merupakan keluarga tidak harmonis. Namun keluarga yang tidak harmonis sudah pasti bermasalah. Dalam keluarga yang tidak harmonis, biasanya ada kebiasaan yang sudah lama dilupakan. Kebiasaan yang membuat sebuah keluarga bertahan menghadapi badai masalah. Kebiasaan yang membuat keluarga tidak pernah kehabisan cara untuk menikmati kebersamaan. Kebiasaan tersebut bisa berupa perkataan sebagaimana berikut:

    1. Aku cinta kamu.

    Cinta merupakan satu-satunya alasan yang bisa dibenarkan atas bersatunya dua orang menjadi pasangan. Barangkali cinta itu sebenarnya masih ada dalam keluarga yang tidak harmonis. Hanya saja kekuatannya sudah hilang karena nyaris tidak pernah ditunjukkan. Begitu pula cinta antara orang tua dan anak. Menyatakan cinta setidaknya sekali dalam sehari itu perlu dan penting untuk menjaga keharmonisan keluarga. Dan mengatakan ‘aku cinta kamu’ biasanya sudah ditinggalkan oleh keluarga yang tidak harmonis.

    2. Maafkan aku.

    Keluarga yang tidak harmonis juga sudah jarang saling meminta maaf satu sama lain. Masing-masing anggota keluarga sudah menganggap dirinya paling benar sehingga tidak perlu lagi meminta maaf. Akhirnya konflik sering timbul akibat kebiasaan saling menyalahkan satu sama lain. Apalagi sampai melempar tanggung jawab dan kesalahan atas kesalahan yang dibuat sendiri.

    3. Terimakasih.

    Terimakasih merupakan bentuk penghargaan kecil terhadap orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Dan keluarga yang tidak harmonis sudah jauh dari menghargai individu di dalam keluarga tersebut. Bagaimana mau berterimakasih, terkadang kebaikan yang dilakukan oleh pasangan atau anggota keluarga lainnya menjadi tidak terasa jika sudah bermasalah.

    4. Kamu hebat.

    Untuk bisa menjadi keluarga yang tetap harmonis dan lebih baik lagi, masing-masing individu di dalamnya harus saling mendukung. Pujian sederhana berupa kalimat ‘kamu hebat’ sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan dukungan. Dan bisa dipastikan, kalimat ini sudah jarang sekali ditemukan dalam keluarga yang tidak harmonis.

    AFR150401

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY