Bahaya Menyebut Anak Dengan Sebutan Negatif

    201
    0
    SHARE
    Bahaya Menyebut Anak Dengan Sebutan Negatif
    source : blogspot.com

    KabarFemale– Sebagian orang tua kadang menyebut atau memanggil anak dengan panggilan seenaknya. Panggilan yang bukan namanya. Terlebih, tak jarang sebutan tersebut merupakan sebutan negatif. Ketika anak sulit memahami satu pelajaran, anak disebut bodoh. Karena anak bertingkah melanggar aturan, membuat keributan, anak disebut bandel. Sebutan-sebutan negatif lainnya pun meluncur deras dari perkataan orang tua.

    Anak merupakan titipan Tuhan kepada orang tuanya untuk dirawat, dididik serta disayang. Bukan untuk dibiarkan berkembang tanpa pendidikan, apalagi untuk dijadikan tempat melampiaskan amarah. Kehadiran anak bukan sekadar anugerah, tetapi juga berarti bertambahnya tanggung jawab dalam kehidupan.

    Menyebut anak dengan sebutan tertentu sebetulnya tidak masalah. Tapi selama sebutan tersebut terselip doa, harapan atau sikap positif. Jika hanya terdapat makna negatif, hal itu sangat tidak dianjurkan. Menyebut anak dengan panggilan negatif hanya akan menimbulkan akibat negatif berikut ini:

    1. Anak bukan bertambah baik, melainkan sebaliknya. Ketika orang tua merasa kesal dengan tindakan atau kebiasaan anak, cara terbaik untuk memperbaikinya bukan menyebut anak dengan sebutan sebagaimana tindakannya. Misalnya suatu kali anak ketahuan mengambil barang milik temannya karena menyukai barang itu. Orang tidak bisa langsung mengatakan anak sudah menjadi maling. Bedakan antara maling dengan anak yang belum paham arti mencuri. Jika orang tua langsung menyebut anak dengan sebutan maling, anak akan mencatat hal itu dalam otaknya. Alangkah lebih baiknya jika anak dinasihati bahwa mengambil barang milik orang lain tanpa izin itu tidak baik. Jelaskan pula konsekwensinya jika anak mengambil milik orang lain.
    2. Membuat anak tidak percaya diri. Sebodoh apapun anak, jangan pernah mengatakan bodoh kepadanya. Hal itu hanya akan meruntuhkan kepercayaan diri anak. Karena sudah dianggap bodoh, bisa jadi dalam pikiran anak akan berkata ‘percuma aku belajar, toh pada akhirnya tetap bodoh. Tidak akan berubah menjadi pintar’. Anak pun menjadi malas belajar karena dia tidak percaya bahwa dia sebenarnya mampu untuk belajar lebih baik lagi.
    3. Kepribadian anak terbentuk berdasarkan penilaian orang terhadapnya. Kepribadian anak terbentuk berdasarkan penilaian yang membentuknya sejak kecil. Jika anak dinilai sebagai anak yang lemah, kemungkinan besar dia akan menjadi pribadi yang lemah. Begitu pula jika orang tua menilai anak dengan penilaian negatif lainnya; seperti bodoh, bandel, kurang ajar, dan sebagainya. Sebaiknya nilai anak sebagai pribadi yang baik. Sehingga otaknya akan mencatat dan menciptakan kepribadian yang baik pula.

     

    AFR150401

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY